Senin, 10 Januari 2011

FKMB-ku Kini telah “Bangun”

FKMB (Forum Komunikasi Mahasiswa Bojonegoro) sebuah organisasi daerah milik mahasiswa Bojonegoro sebagai wadah penyaluran potensi sekaligus tempat berkumpulnya seluruh mahasiwa daerah asal Bojonegoro. organisasi yang sudah berdiri sejak sepuluh tahun lalu ini memang sudah tidak asing lagi untuk di dengar seluruh penghuni kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya maupun daerah Bojonegoro sendiri. Kepengurusan pada periode 2010-2011 ini di ketuai oleh Ama’ Hisbul Maulana, Misbakhul Afifudiin sebagai sekretaris, dan Khoirotul Ula sebagai bendahara.
Organisasi yang visinya sebagai wadah kreativitas dan karya, dari generasi-generasi asal Bojonegoro ini melahirkan sebuah gebrakan baru dalam mengembangkan potensi-potensi yang di miliki. Terbukti banyak program-program atau agenda yang direncanakan dalam mengembangkan visi tersebut. Dalam program kepengurusan saat ini setidaknya ada tiga Devisi yang dibentuk agar mempermudah anggota FKMB dalam mengembangkan potensinya diantaranya :
1. Devisi PA (Pengembangan Anggota) yang dikoordinatori oleh Mas’ud. Devisi pengembangan intelektual sangat di prioritaskan karena dari teman-teman Bojonegoro yang paling utama dibutuhkan adalah tingkat SDM (sumber daya manusia). Dalam devisi PA ini mempunyai beberapa kegiatan yaitu diskusi yang dilaksanakan tiap hari rabu, diklat makalah, English club, rapat bidang, Mapeta (Masa Pengkaderan Anggota) dan ruja’an.
2. Devisi K2O (kesenian, kekaryaan dan olahraga) yang dikoordinatori oleh Aisyah Umaroh. Sesuai dengan nama devisi ini pastinya mempunyai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kesenian, kekaryaan, dan olahraga. Sama dengan devisi PA didalam K2Opun mempunyai program kerja yang tidak kalah menarik, bahkan kebanyakan anggota lebih suka mengikuti kegiatan yang telah diprogramkan oleh devisi K2O di bandingkan devisi lain. Program kerja K2O diantaranya mengadakan diklat jurnalistik bagi redaktur maupun anggota FKMB, mengadakan kajian analisis wacana, mengadakan agenda olahraga di sekitar kampus yang dilaksanakan tiap dua minggu sekali, samin FC (football club), kresek abon, serta Penerbitan buletin Samin News.
3. Devisi Kedaerahan, dalam devisi ini di koordinatori oleh Hanif Ashar. Namanya saja kedaerahan jadi kegiatannyapun banyak yang mengacu pada daerah yaitu Bojonegoro. Ini sangat menarik sekali untuk dipelajari sebagai bekal kedepannya karena bagaimanapun juga kalau kita sudah tidak lagi menuntut ilmu di IAIN Sunan Ampel Surabaya kita akan kembali ke daerah asal. Salah satu kegiatannya yaitu syiar ramadhan yang sudah dilaksanakan pada pada bulan ramadhan kemaren di daerah Ngasem, Bojonegoro. Kegiatan ini memberikan dampak positif baik secara personal, organisasi maupun masyarakat Ngasem. Dalam devisi ini ada juga agenda lain yaitu sedekah bumi, pemberdayaan putra daerah, diskusi budaya, maupun dalam menjalin diplomasi dengan FKMB di kampus selain IAIN Sunan Ampel Surabaya.
“Dari beberapa agenda yang kami programkan selama periode 2010-2011 ini, agenda yang sudah terlaksana baru mencapai 35% saja, karena sampai sekarang belum ada serah kepengurusan dari pengurus periode kemaren.” Tutur ketua Umum FKMB kepada crew Samin News
Ketua juga mengeluhkan, dalam menjalankan program-program banyak sekali kendala yang muncul dan ini menyebabkan terhambatnya kegiatan. Kendala ini kebanyakan berasal dari mahasiswa sendiri karena diskusi yang telah dijadwalkan sering bentrokan oleh jam-jam kuliah bahkan dari semester satu jarang yang datang. Selain itu budaya molor juga masih mendarah daging pada anggota FKMB maupun pengurusnya, padahal ini sangat berpengaruh terhadap jalannya diskusi sehingga dirasa kurang begitu maksimal.
Kondisi keuanganpun juga mempengaruhi lancar tidaknya kegiatan. Dalam catatan keuangan FKMB rasanya cukup memprihatinkan. Mengapa? Berdasarkan kenyataan setiap kali ada kegiatan yang akan dilaksanakan pasti membutuhkan dana. Sekarang petanyaannya darimana dana tersebut? Jawabannya pasti kalau tidak iuran secara langsung ya mengajukan proposal. Ini sangat tidak efektif sekali kalau FKMB tidak mempunyai kas sendiri. Nah, untuk kedepannya bendahara FKMB memprogramkan untuk setiap bulannya dikenakan iuran 2000 per anggota atau iuran 500 yang dibayar tiap kali ada kajian. Program ini sudah dilaksanakan kira-kira satu bulan terakhir ini. “ kalau hanya mengandalkan iuran FKMB tidak bisa berkembang jadi setidaknya devisi lain mempunyai kreativitas yang bisa menambah keuangan.” Ujar Bendahara FKMB saat di temui di tempat terpisah
Harapan terakhir yang muncul dari pak ketua umum agar anggota dapat menganggap FKMB sebagai rumah idaman mereka, tidak canggung di FKMB dan juga di harapkan mempunyai karakter tersendiri, tidak hanya ngumpul saja tetapi juga menghasilkan kreativitas karena itu berguna bagi diri sendiri, organisasi maupun untuk daerah Bojonegoro.(ayu, iezza, nunung)

Akankah Wanita Selalu Terpinggirkan?

Wacana dan isu kesetaraan gender beberapa tahun ini telah menggema luar biasa di seluruh nusantara. Berbagai program di rancang untuk menyosialisasikan program yang katanya dapat membangkitkan kaum hawa dari penindasan kaum adam. Bahkan, seolah-olah, paham ini sudah dianggap suatu kebenaran, yang tidak boleh dipersoalkan, hal ini tentunya berbanding terbalik jika dikaitkan dengan berita yang beredar di masyarakat saat ini. Beberapa minggu yang lalu di media cetak maupun media elektronik gempar memberitakan hasil penelitian yang di lakukan oleh BKKBN Pusat yang menyatakan bahwa remaja putri di wilayah Jabodetabek 51% sudah tidak perawan, sedang di Surabaya sejumlah 54%, di medan 52%, di bandung 47%. Sedangkan Menurut salah satu surat kabar yang terbit tanggal 1 desember 2010 menyatakan 66% remaja putri usia SMP dan SMA tidak perawan, berdasarkan survey komisi penanggulangan aids (KPA) yang di lakukan secara nasional
Ketika ada penelitian seperti ini harusnya semua dapat berfikir “Dengan siapa remaja putri melakukan hubungan Sex hingga ia dapat dikatakan sudah tidak perawan? Apa mungkin remaja putri ini melakukan sendiri?, tak lain dan tak bukan remaja putri melakukan hubungan seks dengan remaja putra juga, bukan? Lantas mengapa yang di sorot hanya remaja putri? Dan sampai saat ini tidak ada satu berita atau penelitian satupun yang mengangkat sekian persen remaja putra sudah kehilangan kejantanannya.
Dalam kasus pemberitaan maupun penelitian yang di lakukan oleh beberapa pihak, tentunya hal ini sangat menyudutkan kaum wanita karena di dalam hal ini posisi wanita tidak ada celah sedikitpun untuk berekspresi ataupun mengutarakan perasaan yang di alami atas pemberitaan media tersebut.
Kasus lain yang menjadi perguncingan hebat di kalangan aktifis mengenai pemerkosaan, seluruh masyarakat telah memiliki pemikiran bahwa “tak mungkin ada kucing menolak ketika diberi ikan pindang” kucing di istilahkan sebagai lelaki dan pindang di artikan sebagai wanita. Dengan kata lain Masyarakat beranggapan tak mungkin laki-laki akan melakukan pemerkosaan terhadap perempuan, jika perempuan itu dapat menjaga kehormatannya, dan masyarakat beranggapan terjadinya pemerkosaan itu karena salah pihak wanita. Apalagi jika si wanita hamil di luar nikah, Karena di anggap buruk oleh Masyarakat si wanita yang sudah menjadi korban akan di asingkan dari tempat tinggalnya.
Hal lain yang tak kalah menarik adalah kasus PSK (pekerja seks komersial), PSK selalu identik dengan kaum wanita, padahal di masyarakat juga ada laki-laki yang menjual kelaminnya untuk di konsumsi publik, hanya saja kasus itu tidak tercium oleh para pekerja media sehingga yang selalu menjadi sorotan hanyalah mereka kaum wanita yang menjual kelaminnya.
Wacana yang selalu di gembar-gemborkan oleh para aktifis itu ternyata hanyalah menjadi wacana yang tidak mengubah apapun, karena ternyata di setiap pemberitaan yang ada di media selalu menyudutkan kaum wanita yang lagi-lagi selalu menjadi korban di balik pemberitaan media.
Sampai kapan penindasan terselubung terhadap wanita akan berakhir seperti tujuan dan mimpi yang digemborkan aktifis, jika para penggerak media yang karyanya dikonsumsi public selalu menyudutkan wanita? Rasanya wanita tak lagi punya tempat untuk singgah sedikitpun padahal banyak yang mengatakan wanita memiliki kebebasan berpendapat maupun berekspresi layaknya laki-laki tanpa mengurangi kehormatan para lelaki, tapi jika tetap sama maka semua itu omong kosong belaka.
Oleh : Aisyah Umaroh*
Crew Edukasi Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya

sistem manajemen pondok pesantren

Sistem Manajemen Pondok Pesantren Mahasiswa yang Ideal
Karya ilmiah
di ajukan untuk mengikuti lomba karya ilmiah remaja
Di pondok pesantren mahasiswa Al-jihad Surabaya
Oleh : Aisyah Umaroh (Zulaikha)


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan dalam pembuatan karya tulis ini ini tepat pada waktu yang telah di tentukan.
Shalawat dan Salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi agung Muhammad SAW. Karena dengan perjuangan beliau kita dapat merasakan kehidupan yang damai ini dalam dinnul Islam.
Sehubungan dengan adanya penulisan karya tulis ini kami sebelumnya minta maaf, apabila ada kesalahan atau kekeliruan yang ada dalam karya tulis ini, oleh karena itu dalam pengkajian suatu yang ditela’ah ini terfokuskan pada suatu inti yang mana isi yang terkandung di dalam karya tulis ini yaitu pembahasan Sistem manajemen Pondok pesantren mahasiswa yang ideal.
Dari sinilah kami sebagai penulis, mengucapkan terima kasih kepada teman-teman kamar Zulaikha yang telah memberikan motivasi sehingga kami dapat menyelesaikan tulisan ini. Semoga Allah membalas atas kebaikan dan menyertakannya atas kita.
Kami sadar bahwa tulisan ini jauh dari kata yang sempurna. Untuk itu kami selalu membuka diri akan kritik dan saran yang membangun bagi para pembaca untuk melengkapi makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya dan dapat sedikit mewujudkan pengetahuan didalam lembaran ini


Surabaya, 15 April 2010


Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pondok pesantren mahasiswa merupakan tempat tinggal bagi mahasiswa yang juga mempunyai keinginan untuk memperdalam ilmu agama di pondok tersebut. Seperti yang sudah kita ketahui bersama layaknya sebuah lembaga lain tentunya memiliki manajemen yang akan mengarahkan langkah suatu lembaga itu, Begitu pula dengan pondok pesantren mahasiswa tentunya memiliki menajemen dalam menjalankan program-program agar pembelajaran dan aktifitas santri lebih maksimal sesuai denga yang di harapkan.

Suatu manajemen pondok pesantren mahasiswa tentu akan sangat berbeda penerapannya dengan pondok pesantren salafiyah pada umumnya karena pemikiran dan orientasi penghuni pondok yang pasti berbeda. Untuk lebih jelasnya di dalam karya tulis ini akan di bahas manajemen pondok pesantren mahasiswa sehingga dapat di katakan ideal.

B. RUMUSAN MASALAH
• Bagaimana manajemen pondok pesantren mahasiswa dapat di katakan ideal?
• Prinsip apa yang di gunakan pondok pesantren sehingga di katakan ideal?
• Bagaimana pola kepemimpinan pada pondok pesantren ideal?

C. TUJUAN
Tujuan penulis menulis karya tulis ini agar kita mengetahui bentuk manajemen yang di gunakan pondok pesantren ideal dan selanjutnya agar memahami,mengertiu dan dapat mengaplikasikan dalam proses pendidikan di pondok pesantren yang akan di kelola sehingga terwujudlah pondok pesantren yang dapat di katakan ideal.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Manajemen pondok pesantren mahasiswa yang ideal.
Kata pesantren berasal dari kata ‘santri’ yang memiliki arti istilah yang di gunakan bagi orang-orang yang menuntut ilmu agama di lembaga pendidikan islam tradisional di jawa. Kata santri yang mendapat imbuhan ‘pe’ di awal dan ‘an’ di kahir memiliki arti tempat para santri menuntut ilmu.
Kebanyakan pondok pesantren menerapkan manajemen yang berorientasi pada penanaman jiwa ketulusan, ke sukarelaan, yang biasanya di kenal dengan istilah khusus dengan “lillahi ta’ala”. Konsep lillahi ta’ala menjiwai hamper semua aktifitas pada pondok pesantrenn. Hanya saja konsep tersebut pada masa lalu banyak memiliki kelemahan yang utamanya disebabkan karena tidak di imbangi dengan kemampuan dan profesionalismen yang memadai sehingga pelaksanaan manajemen pada pondok pesantren tersebutapabila dilihat dari kacamata modern tampak ‘amburadul’ dan kurang efisien. Meski tidak dapat di pungkiri konsep lilahi taala dapat menjadi modal dasar utama dalam kehidupan pondok pesantren tradisional selama ini serta menjadikan pondok pesantren menjadi tahan banting dari segala gangguan dan pengaruh perubahan jaman.
Karateristik Manajemen berbasis pondok pesantren dapat di analisi dengan pendekatan
system yaitu dari segi input-proses-output.

1. Output yang di harapkan.
Pondok pesantren harus memiliki target output yang di harapkan adalah prestasi pondok pesantren yang di hasilkan oleh proses pendidikan dan pembelajaran serta manajemen y6ang ada di pondok pesantren. Yang pada umumnya di klasifikasikan menjadi empat yaitu :
a. Output berupa prestasi pengetahuan akademik-keagamaan.
Prestasi pengetahuan yang merupakan output andalan dan sekaligus menjadi ciri khas dari pendidikan di pondok pesantrentanpa output tersebut secara baik maka suatu pondok pesantren akan kehilangan jati dirinya yang memang ahli dalam bidang ilmu agama islam. Output ini di tandai dengan tingginya penguasaan lulusan dalam bidang keagamaan misalanya: kemamp[uan dalam bidang bahasa arab yang sangat mahir dengan nahwu sharafnyam dapat membaca kitab kuninng secara bagus, membaca la-Quran dengan sangat lancer, menguasai hokum islam secara baik, memiliki akhlak yang baik, memiliki ketrampoilan berdakwah secara bagus, memiliki wawasan keislaman secara baik, dan kemampuan keislamannya yang lain secara baik pula.

b. Output berupa prestasi pengetahuan akademik –umum.
Prestasi pengetahuan yang merupakan di harapkan dapat meningkatkan para lulusan pondok pesantren agar ahli dalam mata pelajaran seperti matematika, sains, bahasa Indonesia serta bahasa asing sebagai modal dalam peningkatan kemampuan serta memenangkan pesaingan yang ketat di era global. Untuk mencapai bidang ini di harapkan sebuah pondok pesantren mau melakukan kerja sama dengan lembaga lain.

c. Output berupa prestasi dalam hal ketrampilan/kecakapan hidup.
Dengan di bekalinya ketrampilan/kecakapan hidup (life skill achiefement) di harapkan para santri setelah keluar dari pondok pesantren dapat hidup mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain. Misalnya di ajarkannya cara penulisan buku yang memang ketika ia menunut ilmu di universitas sudah di bekali untuk itu, media dakwah modern, dan ketrampilan lain yang intinya dapat meningkatkan skill para santri.

d. Output berupa prestasi dalam bidang non akademik
Kemampuan yang tentunya dapat mendukung dari tiga kemampuan di atas misalnya: rasa kasih saying yang tinggi terhadap sesame, kejujuran, keingintahuan yang tinggi, kedisiplinan, dan dapat bekerjasama dengan baik kepada sesamebaik secara looperatif maupun secara kolaboratif.

2. Proses di pondok pesantren.
Di antara karakteristik yang harus di miliki oleh ondok pesantren mahasiswa yang ideal adalah:
a. Menjunjung tinggi IMTAQ dan akhlakul karimah.
b. Proses pembelajaran di pondok pesantren yang memiliki keefektifan yang tinggi sehingga membedakan dengan lembaga lain.
c. Adanya kepemimpinan pondok pesantren yang kuat.
d. Lingkungan pondok pesantren yang aman dan tertib yang menjadikan mahasiswa tidak kelayapan mengurusi hal-hal yang tidak berguna
e. Adanya pengelolaan tenaga yang efektif.
f. Pondok pesantren memiliki kelompokj kerja (team work) yang cerdas, dinamis, dan kompak.
g. Pondok pesantren memiliki kemandirian yang tinggi.
h. Adanya partisipasi yang tinggi dari warga pondok pesantren dan masyarakat.
i. Adanya transparansi manajemen.
j. Adanya kemampuan dan kemauan untuk berubah.
k. Adanya perencanaan, evaluasi, dan perbaikan secara berkala.
l. Pondok pesantren responsive, dan antisipatif, terhadap kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
m. Pondok pesantren memiliki komunikasi yang baik.
n. Pondok pesantren memiliki akuntabilitas yang tinggi.
o. Pondok pesantren memiliki kemampuan menjaga sustainabilitas (kelangsungan hidupnya) secara baik.

3. Input pondok pesantren.
Karakteristik dari pondok pesantren yang efektif di antaranya memiliki inpuit dengan karakteristik sebagai berikut :
a. Adanyan kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas.
b. Sumber daya tersedia dan siap.
c. Staf yang kompeten berdedikasi tinggi dan berakhlakulk karimah.
d. Memiliki harapan prestasi yang tinggi.
e. Focus pada pelanggan khususnya para santri
f. Adanya input manajemen yang memadai untu7k menjalankan roda pondok pesantren (adanya tugas yang jelas, rencana yang rinci dan sistematis, program yang mendukung pelaksanaan rencana, adanya aturan yang jelas dan tegas, serta adanya system pengendalian mutu yang efektif.
Apabila ada 3 aspek ini yang meliputi input, proses dan output maka di harapkan setiap santri tentunya akan mendapatkan bekal yang cukup sehingga setelah keluar dari pondok pesantren kelak seorang santri tak kan mungkin membebankan hidupnya kepada orang lain dan dia akan mampu hidup mandiri.


B. Prinsip Pondok Pesantren Mahasiswa Ideal
Beberapa prindip yang harus di miliki oleh pondok pesantren sehingga dapat di katakana ideal adalah sebagai berikut:
1. Teosentrik
2. Ikhlas dan pengabdian
3. Kearifan
4. Kesederhanaan
5. Kolektifitas (barokatul jama’ah)
6. Mengatur kegiatan bersama
7. Kebebasan terpimpin
8. Kemandirian
9. Tempat menuntut ilmu dan mengabdi
10. Mengamalkan ajaran agama
11. Belajar di pesantren bukan untuk mencari sertifiikat/ijazah saja
12. Kepatuhan terhadap kyai

Sedangkan pesantren juga memiliki peran dan fungsi yang setiap tahun selalu berubah, ketika awal (masa syaikh maulana malik Ibrahim) lembaga pondok pesantren memiliki fungsi sebagai pusat pemdidikan dan penyiaran agama islam. Kedua fungsi ini bergerak saling menunjang pendidikan dapat di jadikan bekal dalam mengumandangkan dakwah sementara dakwah dapat di manfaatkan sebagai sarana dalam membangun system pendidikan.

C. Pola kepemimpinan Pondok Pesantren Ideal
Kefektifan perilaku kepemimpinan dapat di teropong dari beberapa sudut pandang diantaranya :
a. Sudut pandang kekuasaan.
Dari sudut ini seorang pemimpin dapat menggunakan secara otoriter, demokrasi dan leissez faire.
Di dalam agama islam sosok sebagai kyai adalah seseorang yang memiliki gelar yang harus di hormati layaknya raja, sehingga seseorang yang menjadi kyai dia akan di patuhi semua apa yang ia katakana oleh masyaraket setempat. Posisi yang serba menentukan itu akhirnya justru cenderung menyumbangkan terjadinya otoritas mutlak, Seorang kyai adalah sosok yang mengendalikan sumber-sumber terutama pengetahuan dan wibawa.yang merupakan bagi santrinya . maka kyai menjadi tokoh yang melayani sekaligus melindungi santri.

b. Sudut pandang tingkah laku.
Dari sudut pandang tingkah laku ini seorang pemimpin dapat menggunakan gaya kepemimpinan yaitu :
1. Menunjukkan masalah, alternative pemecahan masalah, dan apa yang harus di lakukan oleh kelompok.
2. Menjual keputusan dengan meyakinkan kelompok, bbahwa keputusan itu paling baik dan harus di laksanakan.
3. Menguji kelompok melalui pelemparan masalah dan alternative pemecahan sedangkan keputusan di ambilsetelah adanya reaksi dari kelompok.
4. Berkonsultasiatau menggabungkan diri dengan kelompok dalam arti berpartisipasi di dalam kerja kelompok.
5. Menyerahkan kepada kelompok kekuasaan untuk mengambil keputusan dan mengakui keputusan itu.

c. Sudut tolehan ke depan.
Perilaku kepemimpinan yang berorientasi pada tolehan ke depan terdapat dua gaya kepemimpinan, yaitu :
1. Berorientasi pada pencapaian tujuan, walaupun suasana tegang.
2. Berorientasi pada pemeliharaan suasana kerja yang akrab, meskipun memungkinkan tujuan tidak tercapai.

Sehingga dari ke dua gaya tersebut dapat di gambarkan sebagai berikut :
a. Pemeliharaan suasana kerja rendah, upaya pencapaian tujuan rendah
b. Upaya pemeliharaan suasana kerja tinggi, pencapaian tujuan rendah.
c. Upaya pencapaian tujuan rendah, suasana kerja tinggi.
d. Upaya pencapaian tujuan tinggi, suasana pemeliharaan kerja rendah.

d. Sudut pandang waktu
1. Gaya lepemimpinan permanen yaitu gaya dasar yang sangat sulit berubah.
2. Gaya kepemimpinan situasional yaitu gaya kepemimpinan yang di sesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat dan sewaktu-waktu.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pondok pesantren menerapkan manajemen yang berorientasi pada penanaman jiwa ketulusan, ke sukarelaan, yang biasanya di kenal dengan istilah khusus dengan “lillahi ta’ala”. Konsep lillahi ta’ala menjiwai hamper semua aktifitas pada pondok pesantrenn. Hanya saja konsep tersebut pada masa lalu banyak memiliki kelemahan yang utamanya disebabkan karena tidak di imbangi dengan kemampuan dan profesionalismen yang memadai sehingga pelaksanaan manajemen pada pondok pesantren tersebutapabila dilihat dari kacamata modern tampak ‘amburadul’ dan kurang efisien. Meski tidak dapat di pungkiri konsep lilahi taala dapat menjadi modal dasar utama dalam kehidupan pondok pesantren tradisional selama ini serta menjadikan pondok pesantren menjadi tahan banting dari segala gangguan dan pengaruh perubahan jaman. Karateristik Manajemen berbasis pondok pesantren dapat di analisi dengan pendekatan
system yaitu dari segi input-proses-output.
Beberapa prindip yang harus di miliki oleh pondok pesantren sehingga dapat di katakana ideal adalah sebagai berikut: Teosentrik, Ikhlas dan pengabdian, Kearifan, Kesederhanaan, Kolektifitas (barokatul jama’ah), Mengatur kegiatan bersama, Kebebasan terpimpin, Kemandirian, Tempat menuntut ilmu dan mengabdi, Mengamalkan ajaran agama, Belajar di pesantren bukan untuk mencari sertifiikat/ijazah saja, Kepatuhan terhadap kyai.
Kefektifan perilkaku kepemimpinan dapat di teropong dari : Sudut pandang kekuasaan, Sudut pandang waktu, Sudut tolehan ke depan, Sudut pandang tingkah laku.

DAFTAR PUSTAKA

Sulton, M, Khusnuridlo, Moh, Manajemen Pondok Pesantren dalam perspektif global, Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2006

Asrohah, Hanun, Pelembagaan Pesantren :asal –Usul dan prkembangan Pesantren di Jawa, Jakarta: Bagian proyek, peningkatanm informasi penelitiasn dan diklat keagamaan separtemen agama RI, 2004

Qomar,, Mujamil, Pesantren : Dari transformasi metodologi menuju demokratisasi institusi, Jakarta: Erlangga, 2002
M.M. billah,’pesantren dan pemberdayaan masyarakat memasuki millennium III’ makalah di sampaikan pada seminar di hotel sahid jaya Jakarta 8-9 November 1999

Minggu, 14 Maret 2010

analisis mistisme

ANALISIS TENTANG MISTISME DAN AGAMA
A. Definisi Mistis
Menurut asal katanya, kata “Mistik” berasal dari kata Yunani (mystikos) yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinning), tersembunyi (verbergon), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).
Menurut buku De Kleine W. P. Encylopaedie (1950, Mr. G.B.J. Hiltermann dan Prof. Dr. P. Van De Woestijne hlm 971). Kata “mistik” berasal dari bahasa Yunani “Myein” yang artinya menutup mata (de ogen sluiten) dan “musteion” yang artinya suatu rahasia (geheimnis).
Berdasarkan arti tersebut, “mistik” sebagai sebuah paham yaitu paham “mistik” atau “mistisme”, merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misalnya ajarannya berbentuk rahasia, atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung, dalam kekelaman), sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali penganutnya.
Selain diperolehnya definisi dan pendapat, tentang paham “mistik” di atas, berdasarkan materi ajarannya juga memberikan adanya pemilahan antara paham “mistik” keagamaan (terkait dengan Tuhan ataupun ketuhanan).
B. Ajaran dan Sumbernya (Subyektif)
Selain serba mistis, ajarannya juga serba “subyektif” tidak “obyektif”. Tidak ada pedoman dasar yang universal, dan yang otentik, bersumber dari pribadi tokoh utamanya, sehingga paham “mistik” itu tidak sama satu sama lain, meski tentang hal yang sama. Sehingga pembahasan dan pengalaman ajarannya tidak mungkin dikendalikan atau dikontrol dalam arti yang semestinya. Biasanya tokohnya sangat dimuliakan, diagungkan bahkan diberhalakan (dimitoskan, dikultuskan) oleh penganutnya, karena dianggap memiliki keistimewaan pribadi yang biasa disebut dengan “Kharisma”. Sedangkan bagaimana sang tokoh itu menerima ajaran atau pengertian tentang paham yang diajarkannya itu bisa melalui “petualangan batin, pengasingan diri, bersemedi, bermeditasi”, dan lain-lain.
Jadi ajarannya diperoleh melalui pengalaman-pengalaman pribadi tokoh itu sendiri, dan penerimaannya itu tidak mungkin dibuktikannya sendiri kepada orang lain. Dengan demikian penerimaan ajarannya hampir-hampir hanya berdasarkan kepercayaan belaka, bukan pemikiran. Maka dari itulah, diantara kita ada yang menyebutnya paham, ajaran kepercayaan atau aliran kepercayaan (geloofsleer). Mengingat pengajarannya tidak mungkin dikendalikan dalam arti semestinya, maka paham “mistik” mudah memunculkan cabang baru menjadi aliran-aliran baru sesuai penafsiran masing-masing tokohnya. Atau juga sebaliknya mudah timbul penggabungannya atau percampuran ajaran paham-paham yang telah ada sebelumnya. karena serba “mistik”, maka paham “mistik” atau paham kelompok penganut paham mistik tidak terlalu sulit digunakan oleh orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu dan yang perlu dirahasiakan, karena menyalahi atau bertentangan dengan opini pada umumnya atau hukum yang berlaku sebagai tempat sembunyi.
C. Abstrak dan Spekulatif
Materinya serba “abstrak” artinya tidak konkrit, misal tentang Tuhan (paham mistik keturunan), tentang keruhanian atau kejiwaan, alam dibalik alam dunia (paham mistik non keagamaan), dan lain-lain. Dengan demikian pembicaraanya serba spekulatif, yaitu serba menduga-duga, mencari-cari, memungkin-mungkinkan (tidak kompulatif), dan lain-lain. Pembicaraanya serba berpanjang-panjang, serba berlebih-lebihan dalam arti melebihi kewajaran atau melebihi pengetahuan dan pengertiannya sendiri (meski tidak mengakui tidsk tahu, masih mencoba memungkin-mungkinkan). Oleh karena itu, dikalangan penganut paham mistik tidak dikenal pembahasan disiplin mengenai ajarannya sebagaimana yang berlaku dalam diskusi atau munaqasyah.


D. Sebab Orang Penganut Paham Mistik
1. Kurang puas berlebihan, bagi orang-orang yang hidup beragama secara bersungguh-sungguh merasa kurang puas dengan hidup menghamba kepada Tuhan menurut ajaran agama yang ada saja.
2. Rasa kecewa yang berlebihan, orang yang hidupnya kurang bersungguh-sungguh dalam beragama atau orang yang tidak beragama, merasa kecewa sekali melihat hasil usaha umat manusia dibidang “Science” dan “teknologi” yang semula diandalkan dan diagungkan ternyata tidak dapat mendatangkan ketertiban, ketentraman dan kebahagiaan hidup, justru sebaliknya malah mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka “Lari” dari kehidupan modern menuju kehidupan yang serba subyektif, abstrak dan spekulatif sesuai dengan kedudukan sosialnya.
3. Mencari hakikat yang sebenarnya, orang yang ingin mencari hakikat hidup. Sebenarnya juga ada yang terjebak, bahwa kebenaran hanya akan didapat dari pengalaman mistiknya.
E. Agama
Agama menurut kamus besar Bahsa Indonesia adalah system atau prinsip keprcayaan kepada Tuhan, atau bisa juga disebut dengan nama “Dewa” atau nama lainnya, dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Banyak sekali pendapat tentang “Agama”, tapi disini saya cuman mengambil pendapat mengenai “Agama”, menurut kamus besar Bahasa Indonesia, manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannya menjadikan keyakinan, bahwa ada sesuatu yang luar biasa di luar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syung-ti, kama-sama, dan lain-lain atau hanya menyebut sifatnya saja, seperti yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng, Dumadi, De Weldadige, dan lain-lain.
Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa “Agama” itu pengahambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian “Agama” terdapat “3 unsur” , yaitu “manusia, penghambaan dan Tuhan”. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut disebut “Agama”.
F. Kesimpulan
Walaupun sekarang perbedaan antara religi (Agama dan mistik) sudah menjadi terang, tetapai dalam kenyataannya upacara-upacara keagamaan sering mengundang “unsur-unsur mistik”. Salah satu contoh adalah ucapan mantra-mantra, yang sering merupakan unsur penting dalam upacara-upacara keagamaan. Pengucapan “mantra” sebenarnya adalah suatu perbuatan “mistik”.
Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa, kecuali perbedaan sikap terhadap yang ghaib, kelakuan serba religi, keagamaan itu diselubungi oleh suasana kramat. Sedangkan kelakuan “mistik” tidak bersifat kramat. Mengenai lain-lain unsur, biasanya sering sukar untuk membedakan religi (keagamaan) dan “mistik”. Religi (keagamaan) dan “mistik” sering berdasarkan konsep-konsep yang terkandung dalam sistem kepercayaan yang sama. Sedangkan seperti yang kita lihat dalam realitasnya, keagamaan mungkin bersifat “upacara mistik”, atau “upacara mistik” menjadi upacara keagamaan.